Menggadaikan Mimpi

Rimba


Dalam perjalanan menuju rimba, kegaduhan muncul dari sekelompok sarjana. Rimba yang dituju bukan hutan dan semak belukar, melainkan dinding beton yang menjulang tinggi. Tak ada udara segar, selain asap dan debu yang terus mengepul dari semua yang bergerak dalam rimba itu.

Seorang sarjana yang mendalami ilmu pertanian, yang sewaktu kuliah mendambakan dapat membuat kampungnya subur, menghasilkan sebuah teori nyata soal praktik pertanian yang mampu membuat petani panen padi lima kali dalam setahun. Sayang, dia bergetar saat masuk rimba dan memilih jadi petugas bank. Dengan iming-iming kepastian masa depan.

Sarjana lainnya, mendalami ilmu peternakan. Dia berhasil membuat skema pertanian sapi yang bakal sukses jika diterapkan di Nusa Tenggara Barat. Konsepnya, matang, sangat matang. Sayang dia tidak punya modal untuk mewujudkannya. Nasibnya berakhir di meja kantor. Kantor yang tidak jelas visi-misinya, kantor yang konon menawarkan ragam investasi berjangka. Kantor yang bahkan pemiliknya pun tidak pernah dia temui.

Sekiranya, ada dua sarjana lagi dalam rombongan itu. Satu di antaranya lulusan institut seni. Dia piawai memainkan gitar dan banjo. Komposisinya mantap. Selalu dipuji dosen-dosennya saat kuliah. Sayang, sayang, sayang. Bukan ungkapan kasih yang kumaksud. Dia ciut mendengar riuh suara mesin dan degup jantung para pekerja rimba. Itu adalah kali pertamanya mendengar komposisi yang sangat nyata, komposisi yang membuat pendengarnya ciut, minder, dan mendadak takut akan masa depan. Gitar yang disandangnya lantas ditaruh di ujung sana, entah di ruangan apa itu. Sang musisi memutuskan jadi karyawan sebuah ritel yang menawarkan ragam produk fesyen asal luar negeri.

Satu sarjana yang tersisa entah pergi ke mana, aku terus mencarinya hingga kini. Jika itu kamu, yang sedang membaca tulisan ini, tolong kabari aku agar lengkap cerita ini.

tuah riak peluh

riak riak riuh
riuh riak riak 
riak riuh riak 

tuah tuah berbuah
berbuah tuah tuah

keluh keluh peluh
peluh keluh keluh


september

yang terlunta dalam kasih
berbagi bayang dalam riuh sepi
yang terlunta dalam kasih
tidak lagi mengerti mana pagi mana mimpi

Funk The Hole

#1 (c) shindu alpito

Catatan Kelas Pekerja

  

free



udah lama juga ngga upload postingan yang isinya tulisan (biasanya poto2 doang). Enaknya dimulai dari mana ya? kayaknya semakin "tua" semakin jauh dari kejadian-kejadian absurd dan random...akhir-akhir ini kangen banget pengen liburan seperti yang biasa dilakukan di tahun-tahun sebelumnya. tetapi apa daya, setelah masuk perangkap rutinitas hidup kelas pekerja, rasanya makin jauh saja dari kehidupan yang sesungguhnya (baca: melakukan apa yang diinginkan).