Pengingat

Sudah dua tahun saya tidak mengunggah apapun ke blog ini. Tulisan ini saya buat untuk mengingatkan diri saya sendiri bahwa tidak ada toleransi sedikitpun terhadap sebuah kegagalan.

+++

Saya tidak ingat persis pukul berapa ketika itu, yang jelas saya belum lama membuka mata. Mungkin sekitar pukul 10 pagi. Ponsel saya berdering, hampir saja saya abaikan panggilan itu karena siapa lagi yang menghubungi pada jam-jam itu selain sales kartu kredit. Begitu pikir saya. 

Namun gatal juga rasanya untuk tidak mengangkat panggilan itu. "Shin, lo tanggal - segini - kosong nggak? Ada kesempatan motret konser untuk cover," kira-kira begitu suara di ujung ponsel.

Singkat cerita, saya mengiyakan tawaran itu. Sampai pada akhirnya waktu yang ditentukan tiba. Seperti biasa, saya mempersiapkan segala yang saya butuhkan, termasuk membawa lensa 50mm yang sangat jarang saya pilih dalam memotret konser. "Untuk jaga-jaga," pikir saya.

Singkat cerita, saya menyapu bersih semua rangkaian konser, termasuk momen persiapan. Tetapi ada satu hal yang sangat mengganjal, saya gagal mendapatkan foto para personel bersama-sama secara komplet di atas panggung. Padahal foto itu yang sekiranya dibutuhkan untuk cover majalah itu. Bukan tanpa alasan, saya benar-benar tidak mendapatkan momen itu. Bukan melewatkannya.

Inilah hal paling menyebalkan dalam fotografi konser, kamera dan kemampuan sempurna sekalipun tidak ada artinya jika tidak pandai menangkap momen atau tidak mengalami momen yang baik. Sebaliknya, dengan kamera ponsel sekalipun jika mampu merekam sebuah momen langka dengan baik akan bernilai jauh lebih berharga. Saya tahu, mungkin keberuntungan belum berpihak pada saya. Tetapi rasanya hal itu terus menghantui. 

Saya selalu terbayang bagaimana saya bersiap di samping panggung pada lagu encore untuk menunggu sesi foto bersama para personel. Namun kondisi malam itu sangat berbeda. Grup yang tengah berkonser sedang diterpa badai internal. Atmosfer yang ada di atas panggung itu sangat tidak kondusif. Tidak ada komunikasi yang baik. Bahkan sang vokalis bergegas pergi begitu menyanyikan lagu terakhir. Saya bingung bukan main, detik demi detik berlalu dan mereka tak mungkin menjalani sesi foto meski saya paksa, lantaran lampu panggung dimatikan satu demi satu. Sial!!! Kesempatan yang begitu berharga berlalu begitu saja di depan mata saja tanpa bisa saya ubah!

Tetapi inilah fotografi, sebuah kegiatan yang sudah saya tekuni sepuluh tahun ternyata belum membawa saya pada pembelajaran di titik ini; bahwa tidak ada toleransi sedikitpun terhadap kegagalan di fotografi! Tidak ada yang peduli seberapa matang Anda mempersiapkan diri atau secanggih apa kamera Anda. Jika Anda tidak mendapatkan foto yang baik, Anda gagal. Selesai. Seseorang di luar sana yang mungkin kebetulan juga melihat grup yang sama pada konser yang berbeda dengan posisi duduk yang baik dan kamera ponsel yang prima - juga tanpa tendensi apapun- bisa saja beruntung mendapatkan momen yang saya tunggu-tunggu.

Saya menekuni fotografi lebih serius dari apa yang pernah saya lakukan pada segala bidang yang saya lakukan. Karena bagi saya dalam bidang ini semua memiliki pola rumus yang mutlak. Salah perhitungan sedikit saja, momen akan terlewatkan dengan percuma. Tetapi saya akhirnya tahu bahwa ada hal-hal lain di luar perhitungan matematis seakurat apapun itu. Hal-hal yang mungkin saja tidak akan pernah terjadi pada kita meski kita telah persiapkan sebaik mungkin. 









Menggadaikan Mimpi

Rimba


Dalam perjalanan menuju rimba, kegaduhan muncul dari sekelompok sarjana. Rimba yang dituju bukan hutan dan semak belukar, melainkan dinding beton yang menjulang tinggi. Tak ada udara segar, selain asap dan debu yang terus mengepul dari semua yang bergerak dalam rimba itu.

Seorang sarjana yang mendalami ilmu pertanian, yang sewaktu kuliah mendambakan dapat membuat kampungnya subur, menghasilkan sebuah teori nyata soal praktik pertanian yang mampu membuat petani panen padi lima kali dalam setahun. Sayang, dia bergetar saat masuk rimba dan memilih jadi petugas bank. Dengan iming-iming kepastian masa depan.

Sarjana lainnya, mendalami ilmu peternakan. Dia berhasil membuat skema pertanian sapi yang bakal sukses jika diterapkan di Nusa Tenggara Barat. Konsepnya, matang, sangat matang. Sayang dia tidak punya modal untuk mewujudkannya. Nasibnya berakhir di meja kantor. Kantor yang tidak jelas visi-misinya, kantor yang konon menawarkan ragam investasi berjangka. Kantor yang bahkan pemiliknya pun tidak pernah dia temui.

Sekiranya, ada dua sarjana lagi dalam rombongan itu. Satu di antaranya lulusan institut seni. Dia piawai memainkan gitar dan banjo. Komposisinya mantap. Selalu dipuji dosen-dosennya saat kuliah. Sayang, sayang, sayang. Bukan ungkapan kasih yang kumaksud. Dia ciut mendengar riuh suara mesin dan degup jantung para pekerja rimba. Itu adalah kali pertamanya mendengar komposisi yang sangat nyata, komposisi yang membuat pendengarnya ciut, minder, dan mendadak takut akan masa depan. Gitar yang disandangnya lantas ditaruh di ujung sana, entah di ruangan apa itu. Sang musisi memutuskan jadi karyawan sebuah ritel yang menawarkan ragam produk fesyen asal luar negeri.

Satu sarjana yang tersisa entah pergi ke mana, aku terus mencarinya hingga kini. Jika itu kamu, yang sedang membaca tulisan ini, tolong kabari aku agar lengkap cerita ini.

tuah riak peluh

riak riak riuh
riuh riak riak 
riak riuh riak 

tuah tuah berbuah
berbuah tuah tuah

keluh keluh peluh
peluh keluh keluh


september

yang terlunta dalam kasih
berbagi bayang dalam riuh sepi
yang terlunta dalam kasih
tidak lagi mengerti mana pagi mana mimpi

Funk The Hole

#1 (c) shindu alpito